24
14 07 2008still with the same wish ![]()
Comments : 6 Comments »
Categories : My Thought
Life’ll only be crazy as it’s always been
Wake up early, stay up late, having debts
Things won’t be as easy as it often seems
And yet you want me
This cliche’s killing me
Still I need more I need more
This I’ve never thought before
Chi trova un amico, trova un tesoro*
We can look for many other foreign lines to make me survive your love
You said “To the future we surrender.
Let’s just celebrate today, tomorrow’s too far away.
What keeps you waiting to love?
Isn’t this what you’ve been dreaming of?”
Life’s to live and love’s to love
Sundays will be empty as it’s always been
Watching TV, wake up late, playing dead
Mondays won’t be easy with no plans and schemes
Now that you’re still here
The silence shouts it clear
You’re still here
The silence shouts it clear
To the future we surrender
Life’s to live and love’s to love
To the future we surrender
Life’s to live and love’s to love
To the future we surrender
Life’s to live and love’s to love
To the future we surrender
Life’s to live and love’s to love
*one who finds a friend finds a treasure (italian proverb)
[a lyric by Float]
Pagi ini diawali dengan hal-hal yang mengingatkan saya untuk selalu bersyukur. Bersyukur punya sahabat-sahabat yang selalu ada buat saya, bahkan ketika saya terlalu sibuk dengan pikiran dan tujuan-tujuan saya sendiri.
Beberapa saat setelah shubuh, hp saya berbunyi, ada sms dari sahabat saya. Kangen.. itu yang terasa. Dan pengen aja bareng-bareng kaya dulu, bisa ada setiap saat buat dia, just like the old times
Kami dulu menghabiskan 4 tahun kuliah bersama di ITB, dengan segala suka dukanya, ospek, nilai C pertama, IP dibawah 3 pertama, kerja praktek, sampai masa-masa tugas akhir yang dilalui sambil nonton Piala Dunia 2006, dan tentunya kecewa karena Jerman kalah dari Italia di menit-menit terakhir..
Sekarang dia sudah bekerja, masih di ITB, jadi peneliti. Pekerjaan yang tampaknya sejiwa dengan dirinya..
Selesai membalas sms, hp saya berbunyi lagi, kali ini telepon dari sahabat saya yang lain lagi. Kami mengobrol cukup lama. Dia sahabat saya sejak SMP, sekarang dia sudah menyelesaikan pendidikannya di Teknik Sipil, dan bekerja di pesisir Selatan Jawa. Jadi ceritanya, pemerintah itu ternyata punya dana untuk memeratakan pembangunan. Dana ini sifatnya stimulan bagi masyarakat yang diberi untuk membangun, entah bikin jalan lah, jembatan lah. Nah, sahabat saya ini bertugas menjadi konsultan/pembimbing buat masyarakatnya. Pekerjaan yang menuntut banyak diskusi, dan kemampuan komunikasi yang tinggi.. pekerjaan yang “nyata” efeknya buat masyarakat..
Sampai di kampus, saya chat dengan sahabat saya yang lain, lewat online messenger. Dia sekarang sudah bekerja di perusahaan di Jakarta. Tapi deep inside dia berharap suatu saat bisa kerja yang WAH: Work at Home
Agar masih bisa menyalurkan keinginannya untuk travelling, mencoba hal-hal baru..
Saya jadi mikir, saya mo ngapain ya? ato tepatnya saya nyari apa si? kuliah, lulus, kerja bentar, kuliah lagi.. apa sih yang saya cari? Selama ini saya selalu berpikir kuliah lagi untuk membuka kesempatan, membuka kesempatan mengajar selain bekerja di industri. Kenapa saya pengen bisa ngajar? karena saya pikir, klo saya udah jadi emak2 ntar, klo saya ttp kerja jadi engineer di industri, dgn segala keminiman fleksibilitasnya, kasian banget ntar anak2 dan suami saya. Ga ngurus keluarga itu tidak sesuai dengan idealisme saya.. Tapi di sisi lain, saya punya idealisme buat “berguna”, “berbuat sesuatu” untuk orang lain, makanya saya pengen tetep kerja.. terkadang, tawaran kerja di perusahaan besar dengan gaji yang memadai memang menggoda iman, tapi klo inget gmn hati saya berontak dulu waktu kerja di industri, betapa saya ngerasa semuanya sangat materialistis, saya jadi ga pengen.. Saya hanya berusaha memadukan kedua idealisme saya.
“Kerjaan mah tergantung kita, Tan..” itu kata-kata temen saya. Saya jadi berpikir, iya juga ya.. Dan saya sejenak jadi gamang dengan jalur yang sudah saya pilih. Apa saya sudah memilih jalur yang benar? apa saya melakukan hal yang benar? apa sih yang saya cari? Tapi setelah dipikir lagi, pertanyaan kaya gini emang bakal muncul terus. Dan bakal ada terus sepanjang hidup.. Dan manusia ga punya cara lain untuk tau apakah yang dia pilih itu benar ato ga sebelum menjalaninya.. setiap pilihan pasti ada konsekuensinya.. So, just take the risk
Dari sebuah ucapan terimakasih Walimatul Ursy:
Kue Pernikahan Islami
Bahan:
1 laki-laki sholeh
1 wanita sholehah
…
…
hmm, sounds like fairy tale, doesn’t it?
jadi berpikir, apakah ketika kamu bukan laki-laki sholeh dan bukan pula wanita sholehah, maka pernikahanmu bukan/tidak akan menjadi pernikahan yang barokah? klo iya, gimana dong pernikahan saya ntar? saya sih ga akan berani men-define diri sebagai wanita sholehah. Klo sekarang sangat jelas saya bukan, kedepan2nya pun, sebaik apapun saya, teuteup ga berani lah. Emang apa sih kriteria sholeh/sholehah itu? apa laki-laki sholeh itu kaya si Fahri di Ayat-ayat Cinta? ato kaya si Attar di Munajah Cinta? dan apakah kita, manusia, berhak untuk menilainya? sama seperti apakah kita berhak menilai seseorang sesat atau tidak…
Buat saya sih, hidup itu ga harus lurus terus, ga harus bener terus, salah itu boleh, dan manusiawi. Karena terkadang, manusia perlu bikin salah supaya dia ngerti, perlu jatoh supaya bisa berdiri, perlu ngrasain pait supaya bisa menghargai rasa manis. yang penting ketika salah, akhirnya dia menyadari, dan berusaha untuk kembali.. Ketika dia tidak bisa, dan masih juga bikin salah itu, dia ga putus asa untuk berusaha kembali. Life is a process, isn’t it? dan ketika waktu saya abis ntar, saya ingin punya hidup yang kaya.. Saya ingin kembali sebagai jiwa yang mengerti mengapa saya dikirim ke dunia ini untuk menjalani kehidupan. Dan itu tidak akan bisa saya peroleh dengan terus berjalan lurus tanpa cela.. Itu mungkin knapa manusia emang ditakdirkan ga luput dari dosa.
Since I don’t know whether I’m a “mar’ah sholehah” or not, rasanya ga adil klo saya pengen cari suami yang sholeh. Saya sih cuma pengen nikah sama orang yang cinta sama saya dan saya cintai, yg selalu punya niat baik dan tulus dalam hatinya untuk menuju kebaikan, yang menikahi saya dengan tujuan sama2 berusaha menuju kebaikan. No matter dia bisa bener2 jadi orang yang baik ato ga, yg penting buat saya, dia udah niat. Ga perlu orang yang lurus terus, ga perlu orang yang udah “baik” menurut pandangan orang. Ga perlu orang yang ga ada celanya. Toh saya juga suka bikin salah, juga belon bener jadi orang. Cuma pengen orang yang mencintai kekurangan dan kelebihan saya, dan yang saya cintai kekurangan dan kelebihannya. Then I’ll b perfect in his eyes, and he’ll b perfect in my eyes..
Bukan orang sholeh, karena buat saya, hanya Allah yang berhak menilai kesholehan seseorang..
Kapan pindahan?
Kapan nyari kos?
Kapan seminar?
Kapan UAS?
Kapan libur?
Kapan pulang?
Kapan daftar-daftar?
Kapan prasidang?
Kapan sidang?
Kapan wisuda?
Kapan nglamar kerja?
Kapan nikah?
Kapan-kapan
When it’s the right time, you’ll just know
@Kamar mandi IF lante 2, today, 12:23
Eh siapa tuh?
Ada cewe di depan wastafel..
Pake rok kotak-kotak panjang biru gelap
Kaos biru lengan panjang
Kerudung langsung warna putih berpita kecil
Sepatu sendal tali-tali yang tampak udah memasuki masa persiapan pensiun
Penampilan seadanya yang ga bakal dilirik bahkan oleh jomblo akut ITB sekalipun
Mukanya pucet tapi kurang pucet buat jadi mba-mba hantu
Mata panda abis bgadang brhari-hari
Datar…ga ada ekspresi
Mo ada pohon tumbang di depannya dia cuek aja
Mo ada monyet nari2 di depannya dia juga ga bakalan kaget
Mo ada keanu reeves ngajakin ngedate sambil ngasi kembang seiket juga ga bakalan ngepek
Hmmm, kenal nih tampang begini
Efek megap-megap kebanjiran tugas..
Eh tunggu-tunggu, kaya kenal…
Itu bayangan saya di kaca ya?? ![]()
Hari ini saya dirumah seharian sambil bikin pe er (masih jaman ya
). Di antara acara-acara TV yang ga jelas, saya nonton acara ulangannya Kick Andy. Episode ini kayanya dibuat sehubungan dengan Hari Kartini 21 April lalu. Tamu-tamunya si Oom Andy kali ini adalah para perempuan yang dianggap hebat karena mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang didominasi oleh kaum Adam. Ada yang jadi tukang becak, sopir bus A.K.A.P, tukang tambal ban, dan tukang ojek, sampai petani.
Pertama diceritain tentang si ibu tukang becak. Ibu ini udah berumur 58 tahun, dan udah narik becak selama 23 tahun (seumur saya
). Suaminya dulunya adalah tukang becak, trus alih profesi jadi tukang batu. Penghasilan tukang batu yang ga sebrapa membuat si ibu nekat untuk jadi tukang becak. “Saya coba aja, trus jalan, ya udah
” gitu kata si ibu dengan entengnya. Waktu itu dia terdesak dengan kebutuhan untuk nyekolahin anak-anaknya. Sekarang anak-anaknya uda mentas, suaminya uda meninggal, dan dia tinggal hidup sendiri. tapi dia tetep narik becak dan ga mau menggantungkan hidup pada anak-anaknya, keren banget.. Si ibu ini penampilannya sangat cowo, rambut cepak, celana panjang, kemeja, topi, uda ga kliatan cewe-cewenya acan.. Ya emang pekerjaannya agak membahayakan kali ya klo dia tetap berpenampilan sebagai perempuan. Bayangin klo ada tukang becak yang berpenampilan tetep kaya perempuan, say it: kaya dini aminarti. Resiko yang dialami si tukang becak ini pasti gede banget. Jadi ada pertanyaan yang menggelitik pikiran, padahal kan cewe tu uda dari sananya suka dandan, sampe harus kaya gini demi keamanan dirinya sendiri ketika dia mengerjakan pekerjaan yang didominasi laki-laki..apa ga bisa, perempuan mengerjakan pekerjaan tersebut dengan tetap berpenampilan sebagai perempuan tanpa harus mengalami pelecehan, ketidakamanan dan ketidaknyamanan? Saya yakin masih ada ko cowo baik di dunia ini yang tidak akan melecehkan perempuan, tapi saya juga yakin masih banyak cowo ga beres di dunia ini yang bisa dengan entengnya menganggap perempuan sah-sah aja untuk dilecehkan..23 taun jadi perempuan uda cukup banget untuk menyimpulkan ini
Cerita kedua tentang seorang ibu yang jadi supir bus antar kota, Wonogiri-Jakarta. Saya udah sering jalan darat Solo-Bandung ato Solo-Jakarta naek mobil, beberapa kali gantiin nyetir. Baik lewat jalur selatan maupun utara, walaupun siang hari, tetep aja harus fokus. Bener-bener ga boleh kehilangan fokus ngadepin bus, truk, mobil, dan motor yang kebanyakan jalan dengan kecepatan tinggi dan suka nyelonong, apalagi klo malem. Jadi si ibu ini ceritanya suaminya sakit lever, dan karena terdesak kebutuhan keluarga jugalah si ibu ini akhirnya jadi sopir bus. “Ya keterampilan saya disitu..”, itu kata si ibu pas ditanya kenapa dia jadi sopir bus. Dan mengagetkannya lagi, si ibu ni punya tumor. “Klo saya ga kerja ya saya ga punya uang untuk beli obat”, betapa kuatnya ibu ini. Di tv diperlihatkan scene ketika si ibu berangkat kerja, bagaimana dia mengerjakan pekerjaan rumah dulu, baru siap-siap, trus berangkat, ga lupa cium tangan suami. Tetap terlihat penghargaan terhadap suami walaupun kini si istri yang jadi tulang punggung keluarga. Hemmm, padahal banyak kasus suami yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga pada istrinya, yang menganggap posisinya superior terhadap istri, hanya karena si istri bergantung pada suami sepenuhnya secara finansial..Si ibu tadi, walaupun dia jadi tulang punggung keluarga tetep menghargai suaminya.. sungguh bertolak belakang
Peace!! saya masih percaya ko , masih banyak suami yang baik yang selalu mengargai istrinya di dunia ini
Kemudian, diceritain tentang seorang ibu yang udah jadi tukang tambal ban dan tukang ojek selama 15 tahun, menggantikan suaminya yang sakit. Si ibu ini cantik loh!! Dengan pekerjaannya sebagai tukang ojek, dia tetep berpenampilan seperti perempuan, dahsyat deh pokonya
Dia juga ngasi garansi buat tambal bannya, klo ada yang gagal boleh dibenerin secara gratis. Diliatin scene pas dia lagi ngojek, motornya motor cowo!! jadi inget mantan temen kantor saya dulu yang baru-baru aja nikah (maap ya jeng, ga bisa dateng), si mba ini juga jago pake motor cowo loh, uh keren deh
Tadinya saya mikir, berani banget si ibu jadi tukang ojek dengan tampilan kaya gitu, masih cewe, dandan, cakep lagi.. Eh tau-taunya, ojeknya khusus buat penumpang cewe
“Ya kalau penumpangnya laki-laki saya juga takut”, gitu komentar si ibu. Hohoho, any comment, guys?
Dan yang terakhir, seorang ibu petani dari Ciamis. Ibu ini seorang single parent yang harus bekerja untuk menghidupi anaknya. Dia pernah ditolak masuk kelompok petani yang ternyata katanya anggotanya khusus pria. Trus dia pun bikin kelompok tani sendiri, dan malah dengan segala kreatifitasnya bisa maju. Yang lebih keren lagi, dia ga sekedar bertani, tapi memperhatikan ekosistem juga. “Impian saya harmoni dunia”, itu kata si ibu, huwoow.. Jadi inget kuliah pengetahuan lingkungan jaman TPB dulu, “Think globally, act locally”. Hmmm, si ibu banget ga si.. :-DÂ Dia bikin sistem pertanian yang ga hanya melibatkan tanaman pangan tapi juga tanaman keras buat ngejaga ekosistem. Dia juga sangat tertarik pada budidaya tanaman obat, dan bisa bikin jamu yang bikin kotoran hewan ternak ga bau (bisa diterapin baut manusia ga ya
). Dia pernah dapet penghargaan dari FAO, dan diundang untuk mempresentasikan jamu ternaknya itu ke luar negeri. Dari cara bicaranya, terlihat betapa perempuan ini adalah perempuan yang hebat dan terdidik. And now, the most amazing part, ternyata si ibu hanya lulusan smp!! Bener-bener ga kliatan dari cara bicaranya, bener-bener kaya orang yang minimal pendidikannya sarjana. Huuu, malu aku malu deh, udah punya kesempatan untuk sekolah yang lebih tinggi, tapi belum bisa berbuat sesuatu..jadi inget kata seorang mas2 temen s2 hari jumat kemaren. Kurang lebih kaya gini: ilmu itu terus berkembang, ga akan abis klo mau dikejar, klo kamu nunggu untuk berkarya saat belajarmu uda slese, kamu ga akan pernah berkarya. Seterbatas apapun ilmu yang kamu punya, kamu bisa berkarya, kamu harus percaya ama kemampuan kamu.. dan biarlah karyamu itu berkembang seiring dengan ilmu yang kamu punya. Saatnya mulai berbuat sesuatu..Tenkiu mas, inspiring banget..
Salut buat si mas yang masih mampu mempertahankan idealisme setelah bertahun2 lulus..it’s not easy..
Balik lagi ke cerita Kick Andy yang tadi, setiap perempuan pasti punya idealisme. Ketika dia sudah punya keluarga, suami dan anak-anaknya adalah segalanya..Seberapa besarpun idealismenya untuk hal lain, tetap yang paling utama buat dia adalah idealismenya buat keluarganya, jadi ibu yang baik, istri yang baik, punya keluarga yang baik, disitulah kebahagiaan terbesar buat dia. Segala pencapaiannya tidak akan berarti bila tidak ada kebahagiaan dalam keluarganya. Ada yang seperti perempuan-perempuan tamu2 Oom Andy tadi, memperjuangkan idealismenya sebagai istri dan ibu dengan mencari nafkah. Ada juga yang seperti ibu petani dari Ciamis tadi, yang memperjuangkan kedua idealismenya, idealisme sebagai ibu, dan idealismenya sebagai seorang manusia yang ingin berbuat sesuatu untuk dunianya. So for all husbands in this world (and also for husbands to be), please respect your wife’s choice..and support her.. No matter what it is.. Di balik semua kekuatannya, perempuan tetap membutuhkan laki-laki untuk mendukungnya. Entah dia pilih fokus di rumah untuk mengurus keluarganya, entah dia berusaha untuk menyeimbangkan idealismenya sebagai warga dunia dan idealismenya sebagai istri.. Hargai apapun yang dia pilih.. karena untuk setiap perempuan, pilihan ini adalah pilihan yang amat sangat sulit.. Klo suami punya kewajiban banting tulang nyari duit, istri punya kewajiban jadi manajer rumah tangga. Masih berani bilang kerjaan ibu rumah tangga itu enteng? itu kerjaan manajer loh..Itu pekerjaan tersulit dengan tanggung jawab terbesar,pekerjaan 24/7 tanpa cuti dan istirahat, dan tentunya imbalannya juga sebanding..Bukan imbalan materi.. Apa lagi si yang melebihi kebahagiaan seorang perempuan,ketika dia menjadi ibu dan istri, selain melihat keluarganya bahagia?
Baidewei, tiga dari empat perempuan perkasa ini adalah perempuan Jawa loh. Jadi, jangan berani-berani bilang perempuan Jawa itu cuma jadi konco wingking aja. Dia tau persis bagaimana harus menempatkan diri, kapan harus berjaga di belakang, dan kapan harus mengambil alih di depan ketika suami tidak mampu..Huehe, sukuisme ya saya
boleh dong sekali-sekali, maap maap deh buat yang bukan orang Jawa. Peace!!
Happy belated Kartini’s Day! ![]()
lagi cpe jadi orang baik dan ngalahan..
kadang berakhir dengan dimanfaatkan orang
kadang berakhir dengan tidak dihargai orang
lagi cpe juga jadi cewe low maintenance
yang kemana-mana sendiri
yang ngerjain apa-apa sendiri
yang selalu berusaha ngertiin orang
yang selalu mencoba untuk menempatkan diri pada posisi seseorang sbelum minta sesuatu ke orang itu
-lagi pengen dipukpuk-Hari ini saya review 1 alias presentasi proposal untuk tesis saya. Lucu rasanya pake rok item kemeja putih kerudung putih lagi setelah sekian lama :-p untung sekarang uda ga harus bikin transparansi buat OHP kaya dulu, hmm, ada peningkatan juga selama setaun ngilang dari kampus
Ternyata, biar uda pernah ngrasain sebelumnya, deg deg-an nya teuteup aja sama, yaaa, sedikit mendingan deh
Review 1 saya dijadwalin jam 10.30. Sebenernya sih, hari ini ada kuliah Tesis 1 jam 9-11, cuma karena by default bapanya ga masuk, saya ok ok aja pas dijadwalin jam segitu. Eeh, taunya si bapanya mau masuk kuliah!!
Tapi untungnya ga terlalu masalah karena mata kuliahnya juga berkaitan ama Tesis. Jadinya malah saya pra presentasi proposal pas kuliah, presentasi di depan kelas, di depan bapanya dan temen2 IF tercinta
Jam 10.20 kelas dibubarin dan semuanya langsung menuju ke ruang seminar. Eeh, samapi di depan ruang seminar, ternyata masih ada yang make ruangannya, ada yang lagi presentasi proposal juga
Harusnya siih, sampe jam 10.30, tapi ternyata molor mpe 10.40. Jadi aja saya harap2 cemas <ga banget bahasanya> di depan ruangan sambil makan bakpia oleh2nya mas Lukman (makasi maas, orang panik emang kudu dikasi makanan tuh
). Sambil nunggu, temen2 RPL yang baru habis kuliah pada muncul, hohoho, jadi banyak akhirnya yang nonton, senangnyaaaaa
Jam 10.45 akhirnya presentasi proposalnya dimulai. Overall sih presentasinya lancar, tepat waktu, dan ga panik, alhamdulillah
yaaah, instead of beberapa kali salah sebut kata “tesis” dengan “tugas akhir”, wakakaka
masih s1 bangeeeet, jadi maluuu, jadi diketawain ibu-ibu dosen dan mas mbak penonton :-p Topik tesisnya sangat spesifik dan membingungkan, akhirnya peserta diskusinya cuma ibu-ibu dosen dan saya
makasi buat temen-temen yang udah pada rela jadi kambing cantik dan ganteng karena ga ngerti ama topik tesis saya
buat temen-temen IF: mba naim, mba rosa, mas lukman dengan bakpianya, temen-temen RPL: pak Good, pak Jo, aris, ama sonny (maap yah, pasti beneran ga ngerti deh saya ngomong apa
), oia, buat win IF’03 juga, yang saya sabot jadwal ruangannya selama 15 menit (maap telat
) Oia, makasi juga buat bu Ayu, duuuh, ibu baek banget deh ngujinya, sangat membantu, mpe dikasi paper2 terkait juga, terharuuuuuu.. buat IF’ers yang mo cari penguji, bu Ayu recommended banget deh
Fiuhh, alhamdulillah satu milestone udah tercapai, masi harus kerja keras untuk 3 milestone lainnya, sebelum bisa resign baik-baik lagi dari IF :-p Harus beneran kerja keras mengingat tugas, kerjaan, dan gosip bahwa kuliah Tesis 1 masa berlakunya cuma 1 semester (berarti klo ga nyempet seminar semester ini bahaya dong
) Doain saya ga males ya!! :-p Smangaaaaat!!
Ok, what’s next? waaa, blum selesai bikin modul praktikum buat besok!!! dasar deadliner.. ![]()
Being deeply loved by someone gives you strength while loving someone deeply gives you courage.” - Lao Tzu
Recent Comments