Assalamu’alaikum.. Juni 1, 2009
Posted by tantri in pikiran.trackback
Itu yang dikatakan mas-mas bertampang cunihin sambil matanya ga berenti ngeliatin saya dari atas sampe bawah. Saya pun terus melangkah, risih, sakit, marah, ga sedikitpun tergerak untuk menjawab salam. Ya Allah, maafkan saya.. Tapi rasanya, saya ga pengen ngejawab salam untuk orang yang ngasih salam ke saya bukan untuk maksud yang sesungguhnya..
Mungkin ribuan perempuan berkerudung di negeri ini merasakan hal yang sama. Berkerudung sama sekali ga membuat cowo-cowo iseng diluar sana berhenti mengganggu, berhenti memandang dengan tatapan ga sopan, bahkan berhenti mencoba-coba untuk melakukan hal yang lebih lagi. Itu yang tiba-tiba saya sadari setelah sekian lama berkerudung.. Kadang saya berpikir, kalau saja saya pake kaos lengan pendek ama celana panjang, pakaian sehari-hari saya dulu, apa ada yang bakal berbeda? rasanya tidak..
Hal yang saya sukai dari berkerudung adalah saya punya kewenangan sepenuhnya atas tubuh saya. Saya bisa menentukan siapa yang boleh melihat tubuh saya dan siapa yang ga punya akses kesana. Saya ga tau, tapi sekarang saya mulai berpikir, deep inside, apa yang melatarbelakangi saya berkerudung mungkin ada sangkut pautnya dengan rasa tidak aman yang muncul dari pandangan dan keisengan cowo-cowo ga jelas diluar sana, yang seperti bagi cewe-cewe lainnya juga, udah jadi makanan sehari-hari sejak kecil..seseorang yang sejak kecil hidup dengan penuh rasa tidak aman, akan memilih cara yang paling mudah untuk memperoleh rasa aman itu. Mungkin, selain berbagai alasan yang menggerakkan hati saya untuk berkerudung ada saatnya hati saya membuat satu alasan lagi yang ga saya sadari. Ketika saya ga bisa merubah dunia yang penuh dengan cowo-cowo iseng, saya akan memilih cara yang bisa saya lakukan, menutupi tubuh saya, bahkan ketika kadang sejujurnya saya merasa hal itu membelenggu kebebasan saya sebagai seorang manusia, bahkan ketika dalam hati ini terkadang masih aja ada ‘protes’, kenapa untuk mata dan kelakuan ga bener dari cowo-cowo iseng itu, justru perempuan yang harus menanggung akibatnya, dianggap sebagai penggoda yang harus ditundukkan..
Namun ternyata, konsekuensi dari berkerudung lebih dari sekedar harus rela menutup rambut dan mengenakan pakaian panjang. Sayangnya, konsekuensi itu, ko kadang-kadang buat saya tampak ga manusiawi.. Stereotipe perempuan berkerudung adalah perempuan yang alim, yang paham sama agama, yang madep mantep manut ama suami, setengah makhluk suci yang ga boleh berbuat kesalahan sedikitpun.. Ketika seorang perempuan berkerudung berbuat kesalahan, berbuat sesuatu yang (kata orang-orang) melanggar agama atau norma masyarakat, maka sanksi sosial yang dia terima akan lebih berat dari perempuan lainnya. Padahal apakah benar, dengan sekedar mengubah penampilan, dari rok mini jadi rok panjang, dari tank top jadi baju kurung, dari rambut potongan stylish jadi kerudung, keseluruhan akhlak kita juga akan langsung bermutasi jadi baik? kalau iya, alangkah senangnya
Tidak adil menurut saya menilai seorang manusia dari apa yang dia kenakan. Bukankan tubuh ini hanya sekedar wadah dari hal yang justru benar-benar real? Bukankah tubuh cuma sekedar pembungkus dari jiwa kita yang hidup?Ketika seorang perempuan memutuskan untuk berkerudung, pasti ada niat dalam dirinya untuk berubah ke arah yang lebih baik. Pasti ada niat untuk lebih mendekat pada Tuhannya.. Saya sendiri cenderung melihat berkerudung sebagai bagian dari hubungan yang sangat pribadi antara seorang manusia (perempuan) dengan Tuhannya, dan ga ada yang bisa mencampuri itu, bahkan orang-orang terdekat. Orang tua, suami, siapapun, ga berhak untuk menyuruh seorang perempuan berkerudung..
Rasanya ga sekali saya mendengar cerita perempuan berkerudung yang melepas kerudungnya. Dan semua cerita yang saya dengar selalu diceritakan dengan atmosfer kecewa, sedih, seakan-akan si perempuan ini udah jadi orang jahat hanya karena melepaskan kerudungnya.. Padahal ga sedikit dari perempuan berkerudung itu yang melepaskan kerudungnya karena merasa dirinya kotor, banyak dosa, tidak pantas mengenakan kerudung.. Menurut saya, dalam kasus seperti ini, perempuan berkerudung itu ga salah.. Saya sendiri merasakan beratnya pandangan orang-orang ketika saya sebagai perempuan berkerudung berbuat kesalahan, atau bertindak diluar hal yang biasa dilakukan perempuan berkerudung lainnya.. Beratnya beban inilah yang akhirnya membuat mereka memilih untuk melepaskan kerudungnya. Padahal bukankah perempuan berkerudung pun cuma manusia yang juga penuh dengan salah dan dosa? Bukankah Allah mengilhamkan kepada setiap jiwa kejahatan dan ketakwaannya..
Allah sendiri tidak pernah berfirman yang menyatakan bahwa sekali seorang perempuan berkerudung, dia tidak boleh berbuat salah dan dosa..Siapa yang justru secara implisit menyatakan seperti itu? manusia, masyarakat.. Dengan beratnya sanksi sosial dari masyarakat yang diterima ketika seorang perempuan berkerudung berbuat kesalahan, apakah dia dapat disalahkan sepenuhnya atas pelepasan kerudungnya? dan apakah para pemuka agama dan masyarakat yang menganggap berkerudung sebagai suatu kewajiban bagi perempuan muslim sadar bahwa dengan stereotipe perempuan berkerudung yang mereka ciptakan, mereka justru telah menghambat ribuan perempuan muslim untuk berkerudung?
Saya berkerudung, dan saya berbuat salah dan dosa, saya manusia..

curhatan yg panjang. mantab ini tulisannya, tan.
setuju ama kamu. kerudung bukan jaminan dia cewek baik-baik (bukan berarti kalo berkerudung bukan cewek baik-baik). kita masih sering men-judge orang dari kemasannya.
dosa atau ndak, itu bukan karena kerudung.
eh, kerudung di sini bukan “jilbab” toh?
@zam
iya, dan ga berarti yang ga berkerudung itu cewe ga baik-baik. Intinya sih, lihatlah manusia dari jiwanya, bukan fisiknya, ga adil kan kalau yang dilihat fisiknya aja.