Oleh-oleh Tahrib Ramadhan Agustus 6, 2009
Posted by tantri in kerjaan, pikiran.trackback
Tadi siang saya ikut tahrib Ramadhan di kantor. What? Tahrib Ramadhan? kapan emang puasanya? Hmm, 15 hari lagi ya, ngapain aja sih saya..
Siang tadi, ada ceramah dari Pak Anis Matta. Saya yang telat dateng udah ga kebagian kursi. Jujur, tadinya ga begitu niat dateng, huehehehe
untungnya ntah dateng ilham dari mana, akhirnya saya berangkat juga. Duh Gusti, nyuwun pangapura, udah mo lebaran lagi ko masih bandel
Dari ceramahnya, ada beberapa hal yang berhasil saya tangkap. Yang pertama, semua agama itu tujuannya adalah satu: memperbaiki akhlak. Kenapa? karena dalam kehidupan ini kita sebagai manusia harus bisa memaintain hubungan dengan Allah, dan hubungan dengan sesama manusia. Jadi ibadah dalam agama itu berfungsi sebagai tools untuk memperbaiki akhlak. Nah, yang terjadi saat ini, manusia sering memisahkan mana yang namanya ibadah dan mana yang kaitannya ama akhlak. Contoh, sholat itu ibadah, nyebrangin nenek-nenek di jalan itu kaitannya ama akhlak. Ibadah hanya sebagai tujuan akhir aja. Ngapain solat? biar ga masuk neraka, udah, stop, titik.. ga ada kaitannya sama sekali ama akhlak. Is it? Bukankah jika kita berakhir di surga itu semata-mata karena rahmat Allah?
Bukankah kita mengerjakan solat untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar? ujung-ujungnya kan akhlak juga
Yang kedua, kata Pak Anis Matta, yang namanya jiwa itu selalu fluktuatif, ada naiknya ada turunnya, kadang dia begitu mudah berbuat kebaikan, kadang ga, males aja gitu, dan emang ga ada niat
hmm, iya banget si.. Dan udah tabiatnya manusia untuk ga selalu lurus terus.. Kalo ada manusia yang lurus terus kata Pak Anis bahkan malaikat pun akan solat kepadanya, hueeeee, keren amat, ga mungkin dong ya?
Makanya, tadi si bapak ngasih doa sapu jagat:
Ya Allah, jadikanlah diriku melakukan segala urusan yang Engkau sukai
Lindungilah aku dari hal-hal yang menghinakan aku
Lindungilah aku dari fitnah dan syubhat
Perbaikilah ujung dari segala urusanku di dunia
Dan lindungilah aku dari azab di akhirat..
Kata si bapak, kereligiusitas kita, keinginan kita untuk berbuat baik, itu kaya siklus, kadang naik, kadang turun, jadi grafiknya sinusoidal
Muncul pertanyaan nakal di pikiran saya, kalo gitu ngapain dong kita berusaha jadi orang baik? Toh emang dari sananya aja udah dicetak lengkap dengan baik dan buruknya? Ya ga gitu juga lah.. Allah memang mengilhamkan kepada setiap jiwa kekufuran dan ketakwaannya. Tapi Allah juga berfirman, beruntunglah orang yang menyucikannya (‘nya’ refers to ‘jiwa’) dan merugilah orang yang mengotorinya.. Kita diberi kemampuan, pilihan, untuk melawan hawa nafsu, menyucikan jiwa kita, atau menyerah, mengotorinya..
Tapi, gimana kalau dorongan hawa nafsu itu begitu kuatnya sehingga usaha kita untuk menyucikannya tiap kali terus dan terus aja gagal? Allah tau ko kalau melawan hawa nafsu itu bukan perkara mudah bagi yang namanya jiwa. Oleh karena itulah muncul pernyataan bahwa jihad yang paling akbar adalah melawan hawa nafsu kita sendiri, jihad yang kita lakukan sepanjang hayat (bukan dengan ngebom hotel/kafe dimana-mana..). Emang dari sananya melawan hawa nafsu adalah ujian yang diberikan Allah kepada manusia sepanjang hidupnya di dunia..
Ingat, tugas kita adalah melawan hawa nafsu, Allah ga minta kita selalu berhasil, bagian kita hanyalah berusaha melawan semaksimal mungkin. Ga perlu putus asa kalau belum berhasil melawan hawa nafsu. Justru disaat itulah kita kembali diuji, seberapa besar niat dan kesungguhan kita untuk menuju kebaikan.. The bricks are there for a reason, to show u how bad u want something..
Percayalah bahwa Allah akan selalu melihat usaha kita..
Allah ga akan bertanya kenapa kita ga berhasil ko, Beliau hanya akan tanya kenapa kita ga mencoba berulang kali..


woh.. rajin sekali dirimu sampai mencatat semua isi pengajian!
@zam
daripada ngantuk, wahahahaha