Tag

Masih soal transportasi. 6 bulan menjadi commuter, saya sudah dapat merasakan mengenaskannya sistem tranportasi publik di Jakarta. Kalau dihitung-hitung, bagian terberat dari hari-hari saya adalah perjalanan ke/dari kantor (trus kerja di kantor malah ga berat gitu yaaa :-D ).

Setiap pagi, saya biasa berangkat jam 6 kurang untuk kemudian naik angkot dan mengejar KRL Ekspress Depok-Jakarta. Total perjalanan dari keluar rumah sampai duduk di cubicle berkisar 1.5 jam.  Walaupun namanya KRL Ekspress, bersiap-siaplah dengan gangguan sinyal rutin dan atau kondisi dimana KRL menjadi sangat lambat karena rusak atau karena ada kereta lain yang rusak dan menghambat di depan KRL.

Biar bagaimanapun, walaupun kadang harus berjejalan bagai pindang di dalam gerbong KRL, saya masih cukup puas dengan waktu tempuh yang singkat dan kedamaian hati karena tidak perlu berpacu dengan kemacetan Jakarta yang membunuh..

Sayang seribu sayang, per 2 Juli 2011 nanti, saya tidak lagi bisa menikmati KRL ekspress. PT KAI memutuskan untuk menjadikan semua KRL berhenti di setiap stasiun.. Sebab musababnya tak lain dan tak bukan adalah KPI dari pemerintah bahwa PT KAI harus bisa mengangkut 1,2 juta penumpang per hari dari total 400 ribu penumpang per hari saat ini.. Target yang musykil dicapai mengingat KPI tersebut diberikan tanpa memberikan dukungan penambahan infrastruktur KRL. Frankly, target yang gila..

Dengan pola operasi seperti itu, banyak perubahan yang akan terjadi. Yang pertama tentunya saya harus berangkat lebih pagi dari rumah mengingat waktu tempuh yang akan berubah menjadi 50 menit dari sebelumnya 30 menit.  Yang kedua, meski PT KAI merencanakan jadwal kereta 10 menit sekali, saya ga yakin dalam implementasinya akan bisa begitu mengingat kondisi KRL yang saat ini dioperasikan PT KAI. Hal ini akan berdampak pada penumpukan penumpang yang akan sukses membuat saya berubah jadi tulang lunak akibat berjejalan terlalu padat di gerbong dalam perjalanan. Dan yang ketiga, mengingat gosipnya KRL tidak akan berhenti di Gambir, saya harus mengeluarkan uang ekstra untukangkot dari stasiun Tanahabang atau ojek dari stasiun Gondangdia, berat di ongkos! :-D

Menimbang hal tersebut, hari-hari ini, saya pun mencoba transportasi publik yang lain, Transjakarta alias busway. Dari rumah hingga terminal busway, saya harus berganti angkot dua kali dan melewati beberapa titik kemacetan. Total waktu yang dibutuhkan dari rumah hingga halte busway terdekat berkisar sekitar 1 jam (gilaaaa…).

Dalam kondisi best case ketika saya mewarisi keberuntungan untung selain ukuran badan yang gampang nyelip, saya hanya perlu menunggu 5 – 10 menit di halte busway. Setelah itu, selain berjejalan di dalam busway (I do really think I should use “masker penutup hidung dan mulut”), saya harus menjaga keseimbangan selama minimal 1  jam 15 menit berikutnya selama busway melintasi rute Ragunan-Kuningan yang penuh dengan motor-motor gila dan rute Kuningan-Dukuh Atas yang muaceut pol gara-gara melewati jalur kereta.

Sampai Dukuh Atas, saya sudah tidak berharap lagi bisa ngirit dengan ganti ke busway koridor Blok M- Kota. What I’ve done is lari sprint di halte busway Dukuh Atas untuk kemudian melompat ke Kopaja atau Metromini jurusan Tanah Abang. And it give me at least another 30 minutes. Sampai di kantor, dengan total perjalanan 2 jam lebih, saya pun sukses keringetan, mual, dan bau :-D

Hari ini, saya berhasil memangkas perjalanan naik busway dengan turun di halte Kuningan Timur dan langsung sprint di halte untuk melompat ke metromini. Perjalanan hari ini sukses dipangkas sehingga total waktu yang saya butuhkan dari keluar rumah sampai kantor adalah 2 jam. And I do think that is the best option instead of KRL Ekspress so far..

Kadang saya heran dengan kebijakan pemerintah terkait transportasi. Mau bikin monorel, udah jadi tiangnya, ehhh ga diterusin. Bikin busway, armadanya sedikit dan kualitasnya makin menurun. Bus kota dan metromini, udah kaya kaleng berjalan yang bisa meledug setiap saat. KRL, udah paling lumayan tiba-tiba dikasi target ga realistis tanpa dikasi support yang memadai. Kalau transportasi publiknya menyedihkan kaya gitu, gimana orang mau beralih dari kendaraan pribadi? Macet pun diatasi bukan dengan memperbaiki transportasi publik, tapi dengan solusi ad-hoc seperti membangun jalan layang non-tol..

Jadi, pilih mana? KRL atau busway? atau resign? :-D