Setiap pagi, saya menggunakan moda transportasi angkutan kota untuk menuju stasiun. Daerah perumahan saya merupakan daerah yang baru mulai berkembang. Terletak di perbatasan Depok-Jakarta, membuat pembangunan infrastruktur di daerah tersebut kurang diperhatikan oleh pemerintah. Jalan yang sempit dengan aspal yang hancur lebur dilengkapi dengan kubangan sudah menjadi pemandangan sehari-hari di daerah ini.

Angkot Depok

Kondisi seperti itu membuat angkutan kota yang melewati jalan depan rumah saya juga hanya sedikit. Namun, jumlah angkutan kota yang sedikit dan penumpang yang itu-itu saja membuat hubungan antara penumpang dan sopir angkot jadi lebih akrab :-D Saya pun sudah hapal betul dengan beberapa sopir angkot yang biasa saya tumpangi.

Tiap sopir angkot punya gaya menyetir dan karakteristiknya masing-masing. Tinjau kasus pertama. Tersebutlah seorang sopir angkot D110, sebut saja Bang Gundul. Si Bang Gundul ini satu dari sedikit orang Betawi yang menjadi sopir angkot. Seperti layaknya orang Betawi, gaya ngomongnya blak-blakan dan cenderung sengak. Saya pernah dimarahin gara-gara bilang jalan makin rusak aspalnya karena kena hujan :-D Gaya menyetirnya pun unik. Sambil menyetir, dia selalu ngomel-ngomel meributkan kendaraan lain, yang ga mau minggir lah, yang pelan banget lah. Semuaaaaaaa diomelin :-D Persis kaya Smurf Gerutu..

Gaya menyetir si Bang Gundul bisa dibilang ga konsisten. Suatu hari saya pulang ke rumah naik angkotnya, dan ada ibu-ibu bilang, “Express ya Bang..”. Perjalanan pulang sore itu berakhir dengan sport jantung melewati jalan turun naik dengan kemiringan 45 derajat yang hanya cukup pas buat 1 mobil dan satu motor, yang tentunya, dengan kecepatan tinggi :-D Tapi, tadi pagi, saya naik angkot si Bang Gundul, tepat ketika saya justru butuh benar-benar express, si Bang Gundul nyetirnya gaya penganten, ngetem dimana-mana, jalan dengan kecepatan ga lebih dari 10 km/jam, luamuaaaaa buangueeeet. Kalau ngomel-ngomelnya sih teuteup. Daripada diomelin, saya memilih berdoa biar masih kebagian kereta sambil menghela napas dalam-dalam…

Tinjau sopir angkot kedua, sebut aja Bang Andika. Usianya masih muda, mungkin baru diawal duapuluhan tahun. Bang Andika ini sopir angkot gaul dan stylish. Angkotnya diberi lampu berupa lampu led biru, menyesuaikan dengan penampakan luarnya. Joknya juga dibikin warna biru mencrang aduhai. Pertimbangkan pakai kacamata hitam kalau mau duduk menunduk sambil ngeliatin jok. Gaya berpakaiannya pun stylish abiss, celana jins ketat sepinggul dengan celana kolor yang keliatan, kaos bercorak gaya distro, dan ini yang paling oke: rambut potongan poni lempar menutup mata gaya Andika Kangen Band.. Dan jagonya, dia tetep bisa ngebut dengan pandangan ketutupan poni kaya gitu! :-D

Sopir angkot selanjutnya mari kita sebut saja dengan Bang Rossi. Tidak ada yang mencolok dari penampilan luarnya. Hanya seperti sopir angkot pada umumnya pada usia duapuluhan tahun. Bang Rossi juga ga suka banyak bicara. Kadang penumpangnya sampai berulang kali bilang “Kiri Bang..” karena si Bang Rossi ga respon apapun ketika sang penumpang minta berhenti. Padahal sih, dia tahu ada yang minta berhenti dan dia bakal berhenti kok, dia males ngomong aja, bukan ga denger :-D Bang Rossi ini adalah sopir angkot yang paling sering membuat penumpangnya berucap “Astaghfirullahaladzim”. Kenapa? karena dia bener-bener Valentino Rossi wannabe. Mungkin ketika sedang nyetir angkot, dia membayangkan sedang jadi Valentino Rossi di GP Catalunya, nyopirnya kenceng buangueeedh! Beloknya juga ekstrim, berasa Moto GP kali kalo belok kudu miring-miring :-D Satu lagi keunikannya, angkotnya menggunakan klakson yang bergaung. Sekali klakson bunyinya panjang deh, “Tet tet tet tet tet tet tet..”, lengkap dengan fade out. Dan si Bang Rossi sering sekali mengklakson kalau nyopir :-D

Tinjau kasus selanjutnya, sebut saja dia Bang Rajin. Kenapa Bang Rajin? Karena sopir angkot yang satu ini selalu datang tepat waktu di pagi hari buta. Tiap jam 6 kurang duapuluh pagi dia pasti sudah ada di depan komplek rumah saya. Berbeda dengan sopir angkot lain yang males-malesan dan ngetem di pagi hari, Bang Rajin ga pernah lama-lama ngetem. Dia sudah hapal penumpang paginya siapa saja. Dan satu lagi kelebihan berangkat dengan angkot Bang Rajin. Penumpang bisa berdendang mengikuti lagu yang diputar dari HP sederhananya yang di-speaker. Tapii, playlistnya selalu sama setiap hari: Spice Girls! Gaya kaaaaaan. Ada Viva Forever, Mama, Two Become One, banyak deh.. Hehehe. Perjalanan pagi yang menarik :-D

Sopir angkot yang terakhir yang saya ceritakan disini kita sebut saja dengan si Abang yang Baik Hati dan Penyayang atau Bang YBHDP. Abang angkot yang satu ini perawakannya biasa saja. Dia selalu menggunakan kupluk rajut model topi bayi warna rasta: merah kuning hijau. Dibalik perawakannya yang biasa saja, dia adalah sopir angkot dambaan ibu-ibu dan nenek-nenek. Kenapa? Abang yang satu ini nyopirnya ada dalam kategori sopan dengan kecepatan yang moderat. Tidak pernah ugal-ugalan, selalu bilang terimakasih pada Pak Polisi, dan tidak pernah menilep uang kembalian. Tidak hanya itu, si abang selalu memberikan kesan pesan ketika penumpangnya turun, “Pelan-pelan Bu, ati-ati..”. dan selalu sopan pada penumpang (“Ya para penumpang, tolong digeser bentar yaa, kaya dirumah sakit lagi antre dokter”). Tidak lupa, si abang juga selalu memperhatikan anak sekolah yang naik angkot dia (“Belajar yang rajin ya..cepet lari, keburu masuk”)

Pulang sore hari nanti, sopir angkotnya siapa ya.. :-D