Pernah main Syndicate ga? Syndicate adalah salah satu game yang sering saya mainkan sambil menikmati kemacetan di jalanan ibu kota. Di Syndicate, kita berperan sebagai pemilik perusahaan. Diberikan sejumlah modal awal, kita harus mendirikan perusahaan dengan membangun kantor, menyewa pegawai, dan berinvestasi pada peralatan.
Disediakan pula sejumlah tasks untuk dikerjakan lengkap dengan peralatan dan jumlah pegawai yang diperlukan untuk mengerjakan task tersebut. Selain itu, tersedia pula employee bonus dari sisi morale dan productivity lengkap dengan keterangan efek bonus ini berlangsung berapa lama.
Bermain Syndicate, kita pada akhirnya akan fokus pada hasil yang diperoleh dari mengerjakan tasks tersebut. Ketika memberikan bonus pun, kita hanya akan berpikir bagaimana efek bonus ini terhadap para karyawan. dan bahkan, ketika kita meng-hire karyawan pun, walaupun interface Syndicate memuat foto, nama, dan brief description tentang si karyawan, kita sudah berada dalam kondisi don’t care..
Tidak penting bagi kita mengetahui siapa nama karyawan ini, bagaimana rupanya, seperti apa karakternya. Satu-satunya hal yang penting bagi kita adalah bagaimana kita bisa mengerjakan lebih banyak task dengan bertambahnya jumlah keseluruhan karyawan kita.. They are just numbers..
Hari-hari belakangan ini, dan hari-hari kedepan, adalah hari-hari penuh ketidak pastian untuk para karyawan di tempat kerja saya. Perusahaan tempat saya bekerja sedang melakukan rasionalisasi. Langkah yang harus diambil untuk mengurangi beban perusahaan yang semakin tinggi akibat salah urus bertahun-tahun yang lalu, dan akibat kebijakan yang tidak cukup konstruktif dari manajemen yang sekarang..
Ribuan orang yang menggantungkan nasibnya di perusahaan ini sedang bertanya-tanya apakah mereka masih bisa menghidupi keluarga dari bekerja di tempat ini atau harus angkat kaki dan mencari tempat baru.. Proses yang tidak transparan semakin menambah beban para karyawan..
Buat saya, kondisi yang sekarang ini seperti melihat Syndicate dalam kehidupan nyata. Kami, para karyawan ini memang cuma dianggap numbers oleh manajemen. Mereka ga peduli bahwa karyawan juga punya anak istri dan keluarga untuk dibiayai.. Itu masalah personal karyawan. Mereka memandang kami hanya sebagai numbers, ga perlu tau nama, ga perlu tau keluarga..
Buat mereka, ketika jumlah biaya yang dikeluarkan untuk ngegaji pegawai ga sebanding dengan return yang dihasilkan, ya harus dikurangin numbersnya, so simple.. Gimana si karyawan ini ntar menghidupi anak istrinya, atau membiayai pengobatan orang tuanya di kampung, itu bukan masalah perusahaan. Sama sekali tidak perlu ada hubungan emosional dengan para karyawan. Kejam ya? Kata si mas, yang namanya bisnis emang gitu..
Hari ini, saya melihat seseorang yang baru saja mendapat kepastian bahwa dirinya tidak akan dipergunakan lagi oleh perusahaan ini. Kabar yang diluar perkiraan beliau mengingat beliau masih berada dalam usia produktif dengan performansi yang baik. Ketiga anaknya semua masih dalam usia sekolah, istrinya tidak bekerja. Dan apa yang beliau lakukan, tetap bekerja seperti biasa, dengan sepenuh hati, untuk perusahaan ini, meski dia tahu manajemen perusahaan ini telah membuangnya..
He is NOT just a number..